Senin, 02 Mei 2011

MENGENAL SINDROMA USUS SENSISITIF (IBS)


Apakah Sindroma Usus Sensitif (IBS)?
                Sindroma usus sensitif yang selanjutnya disebut IBS adalah kondisi dimana organ tubuh sekitar perut terasa sakit, kembung dan juga adanya perubahan jadwal buang air besar yang disebabkan konstipasi atau diare. Gejala IBS dapat berbeda dari waktu ke waktu, tetapi rasa sakit pada perut, khususya dibagian usus biasanya selalu muncul dan dihubungkan dengan gerakan usus yang terganggu.
                IBS adalah gangguan pada fungsi gastrointestinal (FCID) karena gejalanya berupa ketidak-teraturan pada gerakan dan sensasi pada usus. Penyakit ini dapat terjadi tanpa disadari sang penderita, mulai dari yang ringan sampai yang parah dan biasanya penderita penyakit ini menangani masalahnya secara diam-diam kecuali rasa sakit yang diderita sudah sangat mengganggu aktivitas mereka. Meskipun IBS tidak berakibat kematian, pendarahan atau kanker usus yang dialami oleh individu dengan gejala ini akan menderita sepanjang hidupnya.  

Seberapa Seringka IBS Terjadi?
                Penelitian terakhir menunjukkan bahwa IBS menjadi masalah dari 10-15% penduduk Singapura. Dan dalam penelitian tersebut juga diketahui bahwa penderita IBS  rata-rata berusia 20-40 tahun, dan dapat mengenai siapa saja tidak perduli jenis kelamin, grup etnis tngkat pendidikan maupun penghasilan.

Tanda dan Gejala IBS
                Rutinitas buang air besar bervariasi bagi semua orang, tetapi biasanya setidak-tidaknya frekuensi normal adalah 3 kali sehari atau 3 kali seminggu. Kotoran yang normal adalah yang berbentuk tapi tidak keras, tanpa darah dan dikeluarkan tanpa rasa sakit. Seseorang dengan masalah IBS biasanya menderita sakit perut atau tidak nyaman, atau konstipasi atau diare yang dihubungkan dengan perut kembung, dan tidak selesainya seluruh kotoran dikeluarkan.
                Selama episode konstipasi, kotoran keluar dalam kondisi keras, kecil, sepeti batu kecil dan sulit keluar. Setiap kali kotoran berhasil keluar, perut menjadi lebih nyaman. Jika yang terjadi adalah diare, kotoran keluar dalam frekuensi tinggi tetapi dalam jumlah kecil, pencernaan berair tanpa darah tetapi kadang-kadang dengan mucus yang berlebihan. Diare seringkali terjadi karena stres atau berlebihan dalam mengkonsumsi makanan berkalori tinggi atau berkadar lemak yang tinggi. Ada juga yang mengalami konstipasi dan diare secara bergantian.
Seluruh gejala pada usus ini biasanya dimulai pada usia dewasa atau remaja dan sering terjadi beberapa kali dalam seminggu. Biasanya, gejala berkelanjutan dan kadang-kadang menghilang dengan sendirinya. Para penderita IBS yang akut biasanya dihubungkan pada kondisi depresi, gelisah dan serba salah. Beberapa penderita wanita dikabarkan juga memiliki kantung kemih yang sensitif dan sering buang air kecil, masa haid yang menyakitkan dan sering merasa ngilu dan kram seluruh tubuh.

Penyebab IBS
                IBS seringkali diangkap merupakan kondisi mental dari masalah psikomatis yang dihubungkan pada kurangnya stuktur yang baik pada usus. Meskipun begitu, dengan adanya urutan gerakan usus dan jalur saraf yang menghubungkan otak dan perut, IBS kemudian dipercaya terjadi karena gerakan usus yang terganggu, sensasi yang berubah pada area gastrointestinal dan terjadinya kekeliruan mengintepretasikan sinyal sensorimotor oleh otak.
                Gerakan usus yang terkoordinasi adalah fungsi harian yang penting untuk memastikan adanya jalur yang mulus untuk isi kandungan dan usus besar berjalan keluar dari tubuh. Fungsi yang penting ini diarahkan oleh otak melalui jutaan jaringan saraf yang dihubungkan sepanjang usus sehingga dapat mengendalikan kontraksi dan sensasi pada perut. Hal ini dipengaruhi oleh hormon yang bersirkulasi, unsur kimia pada perut, dan stimulasi fisik seperti keberadaan makanan pada sistem dan juga dapat disebabkan faktor lingkungan yang beraksi pada otak atau pada tingkat perut. Karena itu, faktor psikososial, diet atau infeksi pada perut di masa lampau dapat menyebabkan perubahan pada fungsi sensonimotor usus yang menimbulkan gejala IBS.


Oleh: Dr. Law Ngai Moh, Consultant Gastroenterologist, Raffles Hospital Singapore

Tidak ada komentar:

Posting Komentar